Ibadah Kurban dan Kesalehan Sosial

posted in: Artikel | 0

 

Oleh: Vania Utami Subiakto

Dua hari yang lalu, Rabu 22 Agustus 2018, masyarakat Muslim merayakan Hari Besar Idhul Adha 1439 H. Selain menunaikan ibadah kurban, masyarakat juga menyelenggarakan rangkaian ibadah lainnya. Mulai dari puasa sunah, shalat id, hingga melantunkan bacaan takbir, tasbih, dan tahmid untuk mengagungkan kebesaran Allah ta’ala. Ritual tahunan ini tidak hanya sarat makna bagi peningkatan kualitas kesalehan individual, akan tetapi juga bagi pengokohan kesalehan sosial.

Hal ini ditandai dengan pembagian daging kurban kepada warga sekitar, terlebih bagi masyarakat yang kurang mampu. Tidak sedikit, binatang kurban juga dikirim ke Lombok NTB. Selain sebagi bentuk ibadah, pengiriman binatang kurban tersebut juga untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang hingga sekarang masih berduka menghadapi bencana gempa. Dari rangkaian ibadah di bulan Dzulhijjah ini, kita berharap, masyarakat Muslim dapat menguatkan kesalehan individual sekaligus kesalehan sosialnya.

Lebih dari itu, pembelajaran dari ritual tahunan tersebut kita harapkan juga dapat meningkatkan solidaritas antar sesama anak bangsa. Sudah barang tentu, bentuk dan wujudnya bisa beragam sesuai kebutuhan yang ada. Sebagai misal, dalam beberapa dekade terakhir, kita banyak menemukan organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Mereka fokus membantu sesama, entah di bidang pendidikan, ekonomi, maupun kesehatan. Tujuannya jelas, agar orang lain dapat terbantu dari kesulitan yang sedang mereka hadapi. Jenis bantuannya pun beragam. Bisa lewat uang, petisi, maupun tenaga.

Meskipun ibadah kurban dalam ajaran agama hanya diperintahkan setahun sekali, namun spirit pengorbanan di dalamnya perlu senantiasa dihidupkan. Salah satunya ialah lewat gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh lembaga-lembaga sosial di atas. Hal ini membuktikan bahwa kebaikan bisa diberikan dengan beragam cara, termasuk dengan mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Saling bekerja sama dalam kebaikan, tenggang rasa, serta mengalahkan egoisme pribadi. Kesemuanya ini merupakan bentuk lain dari pengorbanan. Sederhana tapi bermanfaat.

Simbol Ketaatan

Pada awalnya, ibadah kurban diperintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Perintah ini merupakan ujian bagi keimanan dan ketaatan. Syaikh Abdullah al-Harari (1906-2008) dalam kitab Tafsir Hadaiq al-Ruh wa al-Raihan menjelaskan bahwa perintah ini merupakan puncak ujian yang berat, baik bagi Nabi Ibrahim ataupun Ismail yang pada waktu itu berusia 13 tahun. Tidak hanya pedih bagi seorang ayah, akan tetapi juga perih bagi seoarang anak. Hanya saja, berbekal ketaatan kepada Allah ta’ala, kedua hamba mulia tersebut ikhlas menerima perintah tersebut.

Sebagaimana diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, ketika Nabi Ibrahim as mulai membaringkan Ismail untuk dikurbankan, maka Allah swt menggantikan sembelihan tersebut dengan seekor domba. Kepasrahan dan ketaatan Nabi Ibrahim as kepada perintah telah terbukti, meskipun harus mengorbankan sesuatu paling berharga yang dimilikinya.

Penggalan kisah ini sebagaimana dalam firman Allah ta’ala dalam surat al-Shaffat ayat 106-108:

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim pujian di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Q.S. al-Shaffat: 106-108)

Kisah ini menjadi suri tauladan yang baik bagi umat manusia bahwa ketaatan kepada Allah ta’ala tidak dapat diduakan. Kita harus berani dan rela menunaikan perintah agama, meskipun harus dengan sesuatu yang berharga dan kita cintai. Sebagi misal, kita harus rela mengeluarkan sebagian rezeki kita untuk dizakatkan atau diinfakkan. Selain menjadi bukti kesalehan individual, menginfakkan harta benda yang kita miliki juga merupakan bentuk nyata kesalehan sosial.

Secara lebih luas lagi, hal ini dapat kita maknai bahwa berusaha mengendalikan ego, mengutamakan kepentingan masyarakat yang lebih luas, tidak tamak dan rakus merupakan bentuk lain dari ibadah. Dimana kita mampu mengendalikan hawa nafsu, serta mampu menyembelih sifat-sifat buruk yang kita miliki. Dalam kehidupan sehari-hari, hikmah dari ibadah kurban di atas semestinya tercermin dalam sikap kita. Bentuk nyatanya ialah sikap rela berkorban, simpati dengan penderitaan orang lain, dan tenggang rasa antar sesama. Selain itu juga saling hormat-menghormati meskipun memiliki perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).

Selain sebagai bentu ketaatan, ibadah kurban juga menjadi momen penting untuk meneguhkan kembali rasa empati. Dimana kita rela menyisihkan harta yang kita miliki untuk berbagi. Harapannya, ritual tahunan kurban juga membekas dalam kehidupan sehari-hari di selain bulan Dzulhijjah. Di sebelas bulan yang lain, semangat berbagi dari ibadah berkurban harus senantiasa kita jalankan.

Jika kita sadari, perintah untuk saling berbagi dan membantu tidak lain adalah cara nyata manusia untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki. Sebagai makhluk sosial, tidak dapat dimungkiri bahwa dalam hidup, manusia pasti membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh karenanya, tidak sepantasnya jika memelihara sikap individualistik. Merasa paling benar ataupun paling berkuasa, serta merasa bisa mengerjakan semuanya sendirian. Oleh karena itu, penting kiranya selalu kita tumbuh kembangkan sikap saling menyayangi dan menghormati antar sesama.

Dalam    salah    satu    riwayat    hadis disebutkan:

Diriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, sesungguhnya Rasulullah saw  bersabda:  “Orang-orang  yang penyanyang akan     disayangi     oleh     Allah     yang Maha Penyayang. Maka sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya makhluk yang ada di langit  akan menyayangimu.” (H.R. al-Baihaqi)

Kita akan sangat senang jika ada orang lain membantu di saat kita sedang kesulitan. Begitu juga sebaliknya. Orang lain yang kita bantu akan merasa sangat berterima kasih di saat kita memiliki rasa perhatian kepada mereka. Inilah salah satu dasar penting untuk mewujudkan kebaikan kepada sesama.

Sebagai bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang religius, sudah seharusnya semangat ibadah kurban ini kita pahami. Hidup di tengah masyarakat yang terdiri dari beragam suku, ras, agama dan kepercayaan, semangat rela berkorban dan tenggang rasa perlu kita tumbuh kembangkan. Dengan upaya ini, kita berharap agama dapat menopang dan mengokohkan keragaman Indonesia. Ritual ibadah akan mendorong terbentuknya individu-individu yang memiliki kualitas kesalehan tidak hanya dalam level individual semata, akan tetapi juga dalam kehidupan sosial kesehariannya. Semoga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *