Asian Games dan Ukhuwah Wathaniyah

posted in: Artikel | 0

Penulis: Nurul Hidayat, S.Sos.  diterbitkan oleh Muslim Muda Indonesia pada  31 Agustus 2018

Sejak resmi dibuka pada 18 Agustus 2018, perhelatan Asian Games selalu menghadirkan kejutan. Tidak hanya kesuksesan seremonial pembukaannya, tetapi torehan prestasi atlit Indonesia juga membanggakan. Hingga di tiga hari terakhir, Indonesia berhasil berada dalam peringkat ke-4 dengan perolehan 30 medali emas, 22 perak, dan 36 perunggu. Di samping itu, Asian Games juga terbukti dapat menjadi ajang untuk memperkokoh persatuan nasional.

Ragam perbedaan dan pertentangan yang beberapa tahun terakhir menghantui persatuan Indonesia, seakan luruh dalam semangat perjuangan mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia. Perbedaan suku, ras, agama, bahkan pilihan politik tidak menghalangi untuk bahu-membahu memenangkan kompetisi di ajang bergengsi tersebut. Baik atlit, regu, tim, maupun

Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, alasan bahwa dia adalah manusia ciptaan Allah swt saja sudah cukup”

Habib Luthfi Bin Yahya

Rais ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah

 al-Mu’tabarah an-Nahdiyah 

suporter Indonesia kompak dan semangat saling menopang. Dari persatuan dan capaian prestasi ini, kita tergugah kembali rasa bangga menjadi Indonesia.

Momen ini menjadi bukti nyata bahwa persatuan anak bangsa adalah modal berharga untuk kemajuan bersama. Sudah saatnya, kita tidak menghambur-hamburkan energi untuk saling curiga dan saling cerca antar anak bangsa. Terpaan berita bohong (hoax),ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan fitnah harus kita hentikan. Sebaliknya, sikap saling mengenal untuk bertukar ide dan bergandeng tangan untuk bekerjasama harus kita kedepankan.

Ditambah lagi, sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia, Islam juga membekali seperangkat nilai luhur kepada umatnya agar bisa hidup dengan simfoni harmoni di tengah-tengah keragaman. Bahkan hal ini menjadi esensi dari Islam, yakni menjadi rahmat bagi alam semesta. Salah satu nilai yang ditekankan oleh Islam adalah semangat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

Perekat Keragaman

Sebagaimana telah diulas dalam buletin ini edisi 30 dengan judul Nabi Sebagai Uswatun Hasanah, salah satu langkah Nabi

“Negara Indonesia dengandasarPancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 45 wajibdijagadarihal-hal yang merusak”KH. AbdullohKafabihiMahrus

PengasuhPesantrenLirboyo Kediri

Muhammad saw untuk membangun kota Madinah adalah dengan mewujudkan perjanjian bersama yang tertuang dalam Piagam Madinah. Salah satu kesepakatannya ialah wajib bagi semua penduduk Madinah untuk saling membantu menjaga keamanan bersama. Selain itu, setiap suku dan pemeluk agama harus saling menghargai dan memberi kebebasan umat lain menjalankan keyakinannya.

Banyak sejarawan dan sosiolog yang menyatakan bahwa Piagam Madinah merupakan salah satu konstitusi terbaik untuk membina kerukunan di tengah keragaman. Sejalan dengan ini, Indonesia yang sedari awal dikenal sebagai negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku, ras, budaya, dan agama juga memiliki kesepakatan bersama, yakni berupa Pancasila.

Bahkan semboyan yang tertera dalam lambang negara Burung Garuda tertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan ini merupakan ungkapan fakta sejarah bangsa Indonesia yang plural. Akan tetapi, perbedaan tersebut dapat disatukan oleh cita-cita bersama, yakni mewujudkan bangsa yang adil, makmur, dan sentosa.

Sebagai perekat, kelima sila Pancasila mengakui dan melindungi prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Kelima prinsip ini juga menjadi nilai-nilai dasar agama Islam. Sepanjang perjuangannya, Nabi Muhammad saw senantiasa mencontohkan perilaku adil, persatuan, perjuangan kemanusiaan, dan musyawarah.

Sebagai misal, dalam upaya mewujudkan persatuan, Nabi Muhammad saw mengikat tali persaudaraan antara sahabat Muhajirin dan Anshar. Meskipun tidak ada hubungan darah, kaum Muhajirin sebagai pendatang di Madinah diperlakukan terhormat ibarat saudara sendiri oleh kaum Anshar. Bahkan, sebagaimana dalam sebuah kisah, ada di antara sahabat Anshar yang rela menyajikan makanannya padahal hanya makanan itu yang ada di rumah.

Begitu pula, Nabi Muhammad saw juga tidak segan membantu umat agama lain di Madinah. Sebagaimana dikisahkan, Nabi Muhammad saw senantiasa menyuapi orang tua Yahudi yang kebetulan tuna netra yang terlantar di pasar Madinah. Meskipun setiap kali datang, kakek tua itu senantiasa mencaci maki Baginda Nabi. Selain itu, Nabi Muhammad saw juga berakad gadai dengan tetangganya yang kebetulan beragama Yahudi. Gadai ini, hingga akhirnya ditebus oleh menantu Nabi Muhammad saw, yakni Sayidina Ali bin Abi Thalib ra.

Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa persaudaraan antar sesama warga masyarakat merupakan hal yang mesti diperhatikan. Tidak lain karena dengan persatuan dan saling menghormati merupakan modal dasar untuk membangun ketentraman bersama. Sudah barang tentu, penghormatan ini bukan berarti menghilangkan perbedaan dan mencampur adukkan keyakinan. Akan tetapi, kita bisa meyakini kepercayaan masing-masing seraya menghargai kepercayaan orang lain. Prinsip ini sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an surat al-Kafirun ayat 6:

“Begitu engkau menjadi manusia, maka engkau mempunyai kewajiban untuk mencintai sesama manusia, siapapun dia”Emha Ainun Nadjib

Budayawan

“Untukmu agamamu,  untukku agamaku.” (Q.S. al-Kafirun: 6)

Terkait hal ini, Imam Fakhruddin al-Razi (606 H) dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaibmenjelaskan bahwa masing-masing penganut agama akan mendapatkan balasan masing-masing. Meskipun balasan tersebut berupa pahala ataupun siksa. Pahala bagi orang yang mengimani dan siksa bagi orang yang mengingkari. Manusia tidak diperkenankan untuk menghakimi, mencampuradukkan kepercayaan, atapun saling ejek. Hal ini tidak lain karena yang kelak berhak memberi balasan dan siksa tidak lain adalah hanya Allah ta’ala.

Mewujudkan Indonesia Hebat

Dalam rentang sejarah, Indonesia bisa disegani oleh bangsa lain adalah berkat persatuan. Indonesia mampu melepaskan belenggu kolonialisme juga berkat persatuan. Demikian pula, dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Oleh karenanya, momentum Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang harus menjadi spirit baru. Yakni energi bagi anak bangsa untuk bersatu-padu membangun kemajuan bangsa.

Demikian pula, setiap anak bangsa harus mewaspadai ideologi transnasional. Baik yang mengatasnamakan agama ataupun ideologi tertentu. Pancasila sebagai perekat keragaman Indonesia harus menjadi basis untuk menghadapi tantangan tersebut. Jika hal ini lengah, tidak menutup kemungkinan persatuan Indonesia akan tergerus. Imbasnya, bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan menjadi taruhannya.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari penduduk yang mayoritas menganut agama Islam, kita semestinya aktif ambil bagian. Dengan cara memahami dan mendakwahkan misi mulia Islam.  Wajah ramah dan rahmat yang dimiliki oleh Islam jangan sampai tertutup oleh tampilan sebagian pihak yang menghadirkan agama dengan penuh kekerasan dan kemarahan. Akhlak mulia Islam harus kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana misi Nabi Muhammad saw tidak lain adalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.

Hal ini sebagaimana termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi (384-458 H) dalam karyanya yang berjudul al-Sunan al-Kubra:

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (H.R. al-Baihaqi)

Selain itu, bingkai ukhuwah wathaniyah harus menjadi pijakan dasar untuk hidup di tengah keragaman Indonesia. Sebagai sesama anak bangsa, kita harus bangga dan berupaya mewujudkan kemajuan Indonesia. Tantangan dan hambatan kemajuan negeri ini harus diurai dengan semangat persatuan. Keragaman Indonesia harus dijadikan sebagai modal sosial untuk bertukar ide dan bekerjasama.

Adalah sebuah kerugian bagi kita semua, jika kita larut mempertentangkan perbedaan. Merasa lebih unggul daripada yang lain. Hingga merasa paling hebat dan benar daripada yang lain. Sikap ini hanyalah akan membawa pada perpecahan dan kemunduran. Jika bangsa ini lemah, tidak menutup kemungkinan akan kembali terjajah dan diatur oleh bangsa lain.

Maka dari itu, perpedaan harus kitakelola dengan bijak dan arif. Sebagaimana hal ini telah dibuktikan dalam ajang Asian Games 2018. Sebagai tuan rumah, bangsa Indonesia telah banyak mendapatkan apresiasi dari dunia internasional terkait kesuksesan pembukaan dan penyelenggaraannya. Begitu pula torehan prestasi yang diukir oleh atlit Indonesia. Mari bersama membangun bangsa. Bergandeng tangan mewujudkan kemajuan Indonesia. Bangga Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *