Max dalam Kaca Banten

posted in: Karya | 0

Oleh ; Laras Sekar Seruni

Banten, ratusan tahun sebelum beton melempar jalanan—hanyalah kaki-kaki kuda yang gemar meminum teh. Hujan pun bergetar setiap sore di bibir pantai, letih meminta Max untuk rehat dan mengiris tahun penuh darah.

Dan kini, Banten meminjam asbak untuk melihat apakah tembakau selalu menyala di hari Minggu, membuat Max hidup hingga matanya nyaris membasahi batu.

Max, aku mencium aroma kopi tanpa pajak di situ. Pulanglah ke negerimu. Kami sudah lepas dari orang-orang Dunia Pertama, dan kami belum lelah menghitung orang-orang Dunia Ketiga. Mereka bisu dan ragu apakah perjuanganmu terbenam bersama buku sejarah kelas lima SD ataukah tenggelam dalam suara kereta di samping jenazah istrimu.

(*) Pamulang, 2018
Pojok Literasi

 

puisi ini dpaat dinikmati dalam bentuk video pada link berikut https://youtu.be/uUNoiJyCE6I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *