Tanda Haji Mabrur

posted in: Artikel | 0

Penulis: Perwita Suci, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diterbitkan oleh Muslim Muda Indonesia pada 7 September 2018

Sejak dua minggu lalu, jamaah haji Indonesia mulai balik ke tanah air. Sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, kepulangan jamaah haji dimulai 26 Agustus 2018, hingga 25 September 2018. Kepulangan 221 ribu jamaah haji itu merupakan penanda telah usainya rangkaian ibadah tahunan itu. Kita berharap saudara-saudara kita yang tahun ini telah mendapatkan panggilan Allah ta’ala untuk menjadi tamu-Nya dapat membawa keberkahan bagi masyarakat lainnya.

Dimulai dengan masing-masing jamaah haji dapat memetik hikmah ibadah haji. Di mana ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan badan, tetapi juga kesiapan finansial. Ditambah lagi dengan prosesi persiapannya, mulai dari pendaftaran, pelatihan manasik,cek kesehatan, hingga kesiapan mental untuk jauh meninggalkan sanak keluarga. Dari berbagai pengorbanan ini, tidak berlebihan jika haji

“Dengan menunaikan ibadah haji, seorang Muslim akan mendapatkan pengampunan dosa, dikabulkan doanya, bahkan dijanjikan surga”

disebut sebagai penyempurna keislaman seseorang.

Selain menjadi salah satu rukun Islam, ibadah haji juga memiliki fadilah dan hikmah yang tak berbilang. Dengan menunaikan ibadah haji, seorang Muslim akan mendapatkan pengampunan dosa, dikabulkan doanya, bahkan dijanjikan surga. Tidak berlebihan jika Imam al-Ghazali ketika menjelaskan fadilah dan rahasia ibadah haji dalam kitab  Ihya ‘Ulum al-Din menyebutnya sebagai ibadah penyempurna agama (kamal al-Din).

Lebih dari itu, selain memiliki manfaat yang kembali pada diri masing-masing jamaah haji, ibadah haji juga mengajarkan banyak hal. Pelajaran ini bermuara pada peneguhan kualitas kesalehan sosial. Mulai dari penguatan rasa persaudaraan, hingga rasa sadar dan simpati terhadap perbedaan. Hal ini karena masing-masing jamaah akan bertemu dengan kaum Muslim dari berbagai negara yang berbeda. Tidak hanya sekedar berbeda dari dari praktik ibadahnya, tetapi juga berbeda dari segi budaya, bahasa, hingga warna kulit.

Oleh karenanya, kepulangan ratusan ribu jamaah haji Indonesia di atas adalah sebuah keberkahan tersendiri. Kita berharap mereka dapat menjadi penyejuk bagi masyarakat di sekitarnya. Ritual ibadah yang

“Orang mulia tidak pernah menyakiti orang dan memaafkan bila disakiti orang”KH. Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU

telah ditunaikan dapat menjadi haji mabrur. Selain keutamaannya kembali ke diri pribadi, pancaran haji mabrur juga bermanfaat dan dirasakan oleh orang lain.

Mengasah Rasa Simpati

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw sedang menjelaskan keutamaan haji mabrur. Tiba-tiba, Rasulullah saw ditanya oleh sebagian shahabat tentang tanda-tanda haji mabrur tersebut. Pertanyaan ini tidak aneh, mengingat sebagaimana dijelaskan oleh baginda Nabi saw saat itu, tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur kecuali surga.

Tak heran jika para sahabat merasa penasaran. Mendengar pertanyaan dari sebagian sahabatnya ini, Rasulullah saw lantas menjawab bahwa di antara tanda-tanda haji mabrur ialah suka berderma memberi makan orang lain dan bertutur kata yang baik.

Diceritakan dari Jabir ra, suatu ketika Rasulullah saw ditanya: “Apa itu haji mabrur?”Rasulullah SAW menjawab: “Mendermakan makan dan berkata dengan perkataan yang baik.” (H.R. al-Hakim)

Dengan jelas, hadis di atas menyatakan bahwa haji mabrur ditandai dengan dua hal. Pertama ialah meningkatnya kedermawanan. Sebuah sikap yang didasari oleh rasa empati pada sesama. Memberikan makan kepada orang lain merupakan simbol dari suka berbagi dan berempati. Haji mabrur yang bersifat personal, ternyata bukti diterimanya adalah berupa amal nyata, yakni gemar berbagi.

Tanda yang kedua adalah tutur kata yang baik. Diterimanya ibadah haji seseorang juga bisa dilihat dari tutur katanya. Jika beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia mendapatkan imbas negatif dari media sosial berupa masifnya berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech), maka kepulangan rombongan haji di atas diharap mampu menjadi penawarnya. Jamaah haji di atas tidak hanya mampu menahan dirinya sendiri, akan tetapi juga bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat di sekitarnya.

Selain itu, dalam hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari (194-256 H) juga dinyatakan:

Dari Shahabat Jabir ra, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lain merasa aman (tidak terganggu) dari lisan dan tangannya.” (H.R. al-Bukhari)

Masih terkait hal ini, tentu kita semua tidak asing lagi dengan kisah Nabi Muhammad saw dengan seorang pengemis buta Yahudi. Di waktu itu, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis buta, yang apabila ada seseorang yang mendekatinya, ia selalu berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan dipengaruhinya.”

Mengetahui hal itu, setiap pagi Rasullullah saw menghampiri pengemis tersebut sambil membawa makanan. Tanpa berkata apapun, Rasul menyuapi makanan yang sudah dibawanya. Sementara pengemis terus berkata kepadanya untuk tidak mendekati seorang yang bernama Muhammad.

Suatu hari Sayidina Abu Bakar ra berkunjung ke rumah putrinya, Sayidah Aisyah ra dan bertanya: “Wahai anakku, adakah  sunah rasul yang belum aku kerjakan?” Lalu Aisyah ra menjawab: “Wahai ayah, sesungguhnya engkau adalah ahli sunah, hanya saja, ada satu sunah yang belum engkau lakukan.” ucap Aisyah.

“Apa itu?” Tanya Abu Bakar. “Setiap pagi Rasulullah saw selalu pergi ke sudut pasar Madinah dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana” jawab Aisyah. Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar Madinah dengan membawa makanan untuk pengemis itu. Abu Bakar mendatanginya dan memberikan makanan yang sudah dibawanya kepada pengemis buta Yahudi itu.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, seketika pengemis itu marah dan berteriak: “Siapa kamu!” Abu Bakar menjawab: “Aku orang yang biasa datang padamu.”“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut pengemis buta itu.

Lalu pengemis itu melanjutkan bicaranya: “Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku. Terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan kepadaku.”

Perbedaan pendapat itu penting, tetapi pertentangan dan keterpecah-belahan adalah sebuah malapetaka”KH. Abdurrahman Wahid (1940-2009)

 

Abu Bakar yang mendengar jawaban orang buta itu kemudian menangis sambil berkata: “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Mendengar perkataan Abu Bakar ini, pengemis itu pun menangis dan kemudian berkata: “Benarkah demikian?”  tanya pengemis. Kepalanya tertunduk dan air matanya mulai menetes.“Selama ini aku selalu menghinanya dan memfitnahnya”  lanjutnya. “Tetapi ia tidak pernah marah kepadaku, sedikitpun!” ucap sang pengemis Yahudi sambil menangis terisak.

“Ia selalu mendatangiku, sambil menyuapiku dengan cara yang sangat lemah-lembut.”Sambil menahan kesedihan, pengemis itu terus terisak, dan akhirnya tak tertahan menangis sejadi-jadinya. Di tengah tangisannya, pengemis Yahudi itupun berkata: “Ia begitu mulia. Ia begitu mulia!” Sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit. Kedua tangannya dibuka lebar seperti berdoa, dan kemudian kembali duduk bersimpuh. Sesaat keduanya terdiam. Tak lama kemudian, pengemis Yahudi buta itu meminta Abu Bakar untuk menuntunnya bersyahadat. Jadilah pengemis itu memeluk agama Islam.

Kisah Rasulullah saw dan pengemis Yahudi ini memberikan kita pelajaran berharga. Bahwa sebenarnya ajaran Islam sangat mulia. Tidak hanya berhenti pada kesalehan personal saja, akan tetapi juga terpancarkan dalam kesalehan sosial. Hal ini juga sebagaimana terdapat dalam ibadah haji. Haji mabrur tidak sekedar meningkatkan kesalehan pribadi, akan tetapi juga kesalehan sosial. Tak berlebihan jika kita berharap, jamaah haji yang telah usai menjalankan ibadah hajinya dapat menjadi penyuluh bagi masyarakat luas.

Tulisan ini juga dapat dilihat pada https://muslimmudaindonesia.co.id/tanda-haji-mabrur/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *